sepotong brownies dari laskar konstitusi yang narsis…
Sepotong brownies dari laskar konstitusi yang narsis…….
Kenapa sih, nih anak mondar mandir dari tadi? pikirku waktu ngeliat Dini yang emang sedang mondar-mandir sambil melihat catatan di kertas kecil. Di depan kelas ketemu, di depan kamar mandi ketemu, di kantin juga ketemu. “Sil, sini Sil! Dari mana aja kamu? Dari tadi aku nyariin kamu. Ayo ke mushola, sekarang yok!” Hah…bukannya dari tadi udah ketemu ya? Ya udahlah akhirnya aku ke mushola.
Di mushola ternyata sudah berkumpul beberapa anak. Yaitu, miss Ricky, Sokhi,Arizky, Ninis, Diani, Ririck, Desi, aku dan tante alias Dini, dan yang terakhir datang adalah Timy. Nggak tahu kenapa, kok rasanya aneh banget. Emang mau ada apa? lomba cerpen? kaya’nya wajah-wajah yang sedang kuhadapi saat ini nggak begitu tertarik dengan Cerpen. Tiba-tiba Bu Nanik datang. “Anak-anak, kalian akan diikutkan lomba cerdas cermat UUD 1945, tap MPR, dan konstitusi.” Apa? Lomba cerdas cermat konstitusi? Emang sejak kapan aku tertarik ama yang begituan? Nilai civicku aja kaya’ gitu.Emang berdasarkan apa juga, aku disuruh ikutan lomba ini? Semakin bingung “Lho, Bu, kita ini mau diseleksi, ta Bu?” tiba-tiba miss Ricky tanya. “Lho, ya ndak. Ya, kalian itu satu kelompok, sepuluh orang.” “Terus lombanyakapan, Bu?” “Minggu depan?” Seketika semuanya bilang, “Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….”
Ya udahlah nggak apa-apa. Apa salahnya sih, mencoba. Lagian, inikan konstitusi negara sendiri, masa’ nggak mau belajar tentang negerinya sendiri. Hari-hari dilewati dengan training yang nggak maksimal, karena kita hanya punya waktu seminggu, dan itupun trainingnya, cuma satu sampai dua jam saja. Ditambah lagi, betapa kagetnya kita ketika tahu anak SMAN 1 Malang, sudah ditraining sebulan lamanya dan Diani beserta Timy yang tak bisa sering-sering pembinaan karena kesibukan lomba yang lain. Akhirnya, empat hari sebelum lomba, kita terpaksa membagi hafalan uud 1945 yang seharusnya wajib dihafal semua anak. Untungnya, masih ada Bu Nanik yang sabar untuk membimbing kita.
Yel-yel sudah oke, walaupun persiapan materi masih kurang, menurut nak-anak. Bahkan, kita lebih terkesan untuk mengikuti lomba yel-yel daripada lomba cerdas cermat. Habis, semua ribet latihan yel-yel, nyiapin property buat yel-yel, dsb. Akhirnya, Hari Senin tiba.
Babak penyisihan, tim SMA Negeri 10 Malang bertanding melawan tim SMAN 6 Malang, dan SMAN 8 Malang. Sebelum cerdas cermat dimulai, peserta wajib menyampaikan yel-yelnya. Alhasil, tim SMAN 10 Malang sangat semangat beryel-yel, karena memang sudah dipersiapkan sejak awal.. Apalagi, Arizky, miss Ricky, dan Sokhi yang berada di garis depan. Babak penyisihan berlangsung, tim SMAN 10 Malang, memperoleh sekor rendah di babak tematik, namun di babak adu cepat bisa memperoleh nilai banyak. Dan di babak penyisihan, SMAN 10 Malang menjadi pemenang lomba yel-yel, dan lolos ke semi final.
Di semi final, SMAN 10 Malang, bertanding dengan MAN Malang 3 yang bener-bener sudah hafal uud 1945 di luar kepala. Waktu istirahat untuk gelombang satu, kita sempat melihat penampilan MAN 3 yang bermain di gelombang dua. Kata Timy, sih, MAN 3 gila banget, kalo mencet bel, cetot…cetot… saking hafalnya sama uud ’45. Tibalah babak semi final antara SMAN 10 melawan MAN 3. Masih semangat dengan yel-yelnya, tim SMAN 10 panas dingin ngadepin MAN 3. Seperti di babak penyisihan, tim kita jatuh di tematik, namun babak pilihan ganda dan adu cepat, kita selalu unggul. Akhirnya, lolos lagilah kita ke babak final dengan selisih nilai yang sangat jauh, yaitu 100 poin, atau sama dengan nilai 10 soal adu cepat. Ditambah dengan juara yel-yel sekali lagi.” SMANDASA…..!!!” “Fight, Fight, Fight!”
Di babak final dari 24 group, tersisa 3 group, yaitu, group atau tim dari SMAN 10 Malang (Group A), SMKN 10 Malang (Group B), dan SMAN 1 Malang (Group C). Seperti biasanya, di babak pertama, atau tematik tim kita selalu jatuh. di babak pilihan ganda, semua mendapat nilai sama, yaitu 50, atau sempurna. Di babak adu cepat, ada 15 soal yang masing-masing jika benar bernilai 10, dan jika salah minus lima (-5). Di babak ini, banyak sekali soal yang hangus, karena soal-soal di babak ini, sangat sulit, dan berupa analisis. Jadi, kita tidak cukup untuk menghafal uud’45 dan tap MPR saja. Tadi, sempat sku menjawab dengan jawaban panjang, namun karena kurang beberapa kata saj, jawabanku salah. Aduh, rasanya aku sangat bersalah pada teman-temanku. Namun, pada pertanyaan selanjutnya, miss Ricky cukup yakin dengan analisisku, kemudian memencet bel. Untunglah aku menjawab dengan benar, hingga aku bisa mengembalikan skor minus tadi, dan menambahnya lima. Hhhhhh…
Tibalah pertanyaan terakhir, di mana, skor tim dari SMAN 10 Malang dan SMAN 1 Malang, sama 105, sedangkan, skor SMKN 10 Malang 85. “Pertanyaan terakhir, apa yang mendasari dibentuknya pasal peralihan ayat dua amandemen ke-empat?” miss Ricky, Timy, dan Ririck, sebagai pembicara menoleh ke belakang. Semuanya bingung, karena ini adalah penentuan terakhir, kalau kita memencet bel dan salah,kita kalah. Dan kalau tidak memencet bel, kemudian dijawab SMAN 1, ternyata benar, maka kita juga akan kalah. Kita berdikusi, dengan mempressure Arizky yang hafal pasal tersebut. Timy memberi kesimpulan dan hampir saja memencet bel, namun anak-anak menarik tanagannya. Semuanya hanya bisa meremas-remas tangan dan berkomat-kamit untuk memohon bimbingan kepada Allah. Akhirnya soal hangus, dan jawabannya adalah jawaban Timy tadi. Ternyata, SMAN 1 Malang, juga tak berani menjawab. Skor seri, sehingga juri terpaksa membuat 5 soal tambahan.
Istirahat selama 15 menit, sungguh sangat menyesakkan dada. Tim SMAN 10 Malang melingkar, bergandengan tangan, dan kemudian berdoa bersama-sama. Ya, hanya berdoalah yang bisa kita lakukan saat itu. Perasaan tertekan, menyesal karena tidak menjawab, dan keinginan untuk menjadi wakil Malang di Jatim, rasanya muncul satu per satu di otak kita.
Kita kembali di kursi panas, menghadapi soal-soalyang begitu gila. Aku, yang duduk di belakang miss Ricky, hanya berusaha berdoa sebanyak-banyaknya dan bingung melihat Arizky yang duduk di samping kiriku, menangis sejak pertanyaan pertama babak tambahan ini. Ya Allah…. beri kami petunjuk. Ya, aku yakin, itulah kalimat yang diucapkan anak-anak di belakangku yang sedang mengerutkan keningnya. Akhirnya babak ini berakhir seri lagi, 125-125. Juri terpaksa membuat 3 pertanyaan lagi.
Rasa khawatir tadi, sudah kalah jauh dengan saat ini. Bayangkan, babak tambahan berakhir dengan skor seri lagi. Kembali kita berdo’a bersama-sama. Kembalilah kita ke kursi panas sambil mengucapkan,”SMANDASA…!!!” “Fight, fight, fight!” berulang kali. Kembali ke kursi panas, sekararang aku dibingungkan Sokhi ysng duduk di samping kananku mengulat-ulat bajunya. Teeet…. miss Ricky memencet bel, kemudian menoleh ke belakang untuk mendiskusikan pertanyaan. Dengan keberanian sebagai risktaker, miss Ricky mengemukakan hasil diskusi kita, dan… benar…. Alhamdulillah… Pertanyaan kedua, miss Ricky memencet bel lagi. Karena memang pertanyaan ini mudah, spontan tim SMAN 10 Malang bersama-sama menjawabnya. “Ehm… maaf, sa…… salamat…” “Ye…….”Kurang satu pertanyaan lagi, namun kita jelas menang. Karena selisih skor 20. Akhirnya, kita membiarkan SMAN 1 Malang menjawab pertanyaan terakhir, sehingga skor akhir adalah 135-145, dan tim SMAN 10 Malang sebagai juara 1. Dengan bangga, kita menyanyikan yel-yel yang sangat mencerminkan kenarsisan kita, sekaligus sebagai doa yang terkabulkan. Terlihat peluh yang mengucur deras di dahi laskar konstitusi dari SMAN 10 Malang ini, dan jantung rupanya berdetak lebih cepat lagi….
Akhirnya, kita bisa wakili Malang di tingkat Jawa Timur…
Laskar konstitusi adalah sebutan asal-asalan kita yang sebenarnya untuk penyemangat, bukan untuk kesombongan. Karena kebetulan, semua nama panggilan kita berbunyi vokal “i”, dan jumlah kita ada sepuluh. Ya… jadi biar kelihatan kompak, agak niru laskar pelangi yang anggotanya juga ada sepuluh, nggak apa-apa kan? Meskipun kita nggak ahli dalam konstitusi, ya…. biar narsis dikit lah…..
Laskar Kostitusi, puas sekarang. Keinginan kita untuk menang, dikabulkan oleh Allah… Aku masih melihat peluh yang bercucuran dari dahi dan punggung yang basah oleh keringat pula. “Aduh, Sil, aku pengin nangis…,” kata miss Ricky terharu, padaku. “ Nangis aja, miss…Gak apa-apa…” “Tapi gak iso…” Aku hanya bisa nyengir. Inilah lomba paling gila, dan paling menegangkan yang pernah kita alami. Kesepulah Laskar Konstitusi akhirnya menyalami Bu Nanik, pembina kita, dan para juri. Ah, aku masih teringat Pak Lukman, juri kita sejak di babak penyisihan yang baik hati…Dan terima kasih, Ya Allah…. Ini semua adalah karuniamu……
(by: Yusnita Silsilia Warda)
3 Responses to “sepotong brownies dari laskar konstitusi yang narsis…”
Trackbacks / Pingbacks
- - Mei 22, 2010




Bagus…
subhanallah…..